Pada 1500 sampai 1800-an, dua juta pelaut meninggal akibat scurvy, penyakit yang disebabkan karena tubuh kekurangan vitamin C. Penyakit ini bisa menyerang jika asupan vitamin C seseorang berada di bawah 10 mg per hari selama berminggu-minggu, membuat penderitanya mengalami pendarahan terutama di gusi, gigi goyang, dan anemia. Saat itu para pelaut belum mengetahui apa itu vitamin C. Mereka juga tak punya cukup stok buah dan sayuran selama perjalanan panjang di lautan. Kemudian, tahun 1747, seorang ilmuwan bernama James Lind bereksperimen dan menemukan bahwa jeruk dan lemon bisa membantu mengobati para penderita scurvy. Sejak itu keduanya menjadi teman setia para pelaut. Saat ini penyakit scurvy yang dulu dikenal dengan “the plague of the seas” bahkan sudah jarang ditemukan di negara-negara berkembang.
Pauling kemudian mempublikasikan bukunya yang paling terkenal, Vitamin C and the Common Cold, pada 1970. Ia mendorong orang-orang di Amerika Serikat untuk mengonsumsi 3.000 mg vitamin C setiap hari karena dianggap dapat “menghindarkan flu dan meningkatkan kesehatan”. Sains modern membantah temuan Pauling ini. Angka 3.000 mg dinilai terlalu berlebihan. Sebuah tinjauan studi dari Universitas Helsinki di Finlandia pada 2013 mengatakan jika vitamin C tak dapat menghindarkan seseorang dari flu, tapi memang bisa memperpendek durasi penyakit tersebut. Kedua peneliti di atas, Harri Hemilä dan Elizabeth Chalker, menyimpulkan bahwa hanya dibutuhkan 1.000 sampai 2.000 mg vitamin C per hari untuk mengurangi durasi flu pada orang dewasa sebesar 8 persen (sekitar 10 jam) dan pada anak-anak sebesar 14 persen (17,5 jam). Vitamin C tidak dapat disimpan dalam tubuh. Tubuh juga tidak dapat memproduksi vitamin C. Karena itu seseorang harus mengonsumsi vitamin C setiap hari. Sementara kelebihan vitamin yang dikonsumsi harian itu bakal langsung dibuang tubuh lewat urin. National Academies di Amerika Serikat sebenarnya hanya merekomendasikan tiap orang mengonsumsi 75 sampai 90 mg vitamin C per hari. Namun demikian, dosis optimal konsumsi vitamin C adalah 500 mg per hari, kecuali bagi perokok, ibu hamil, atau orang sakit. Bagi mereka, diberikan dosis lebih tinggi. Para peneliti punya simpulan beda-beda tentang manfaat vitamin C, tapi mereka sepakati: vitamin tersebut mampu tingkatkan imunitas tubuh.

Vitamin C membantu melindungi sel tubuh, menjaga kesehatan tulang, dan meningkatkan penyerapan zat besi oleh tubuh dari berbagai sumber makanan. Vitamin C juga adalah salah satu antioksidan yang dapat melindungi dari kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas, serta bahan kimia beracun dan polutan seperti asap rokok. Vitamin C sangat berperan penting dalam kesehatan dan erat kaitannya dengan penyakit degeneratif yakni penyakit jantung koroner, stroke, diabetes melitus dan hipertensi. Apakah ada hubungan vitamin ini dengan penyakit degeneratif? Betul sekali, vitamin C dapat berfungsi sebagai antioksidan, kofaktor dalam pembentukan kolagen dan berbagai hormon, meningkatkan sistem imun serta mencegah berbagai penyakit. Antioksidan bertugas menetralisir oxidatif stres yang dapat merusak sel, jika tidak dibantu dengan antioksidan akan merusak DNA, protein dan lemak. DNA yang teroksidasi akan menjadi awal timbulnya berbagai penyakit. Bila antioksidan yang berasal dari dalam tubuh tidak mencukupi, maka anda perlu mengkonsumsi antioksidan dari luar tubuh. Mengenai kebutuhan vitamin C, Fiastuti salah satu pakar kesehatan di Indonesia mengatakan kebutuhan vitamin ini setiap orang tergantung kondisi yakni orang dewasa (90/75 mg), hamil (85 mg), menyusui (115 mg). Sedangkan angka kecukupan gizi vitamin C nomal 60 mg/hari, kehamilan 60+10 mg/hari, menyusui 60 + (25-10 mg)/hari. Bila kekurangan Vitamin C dapat meningkatkan risiko penyakit degeneratif, meningkatkan risiko infeksi, memanjangkan penyakit penyembuhan luka, sebaliknya bila kelebihan konsumsi Vitamin C lebih dari 1000 mg berefek rasa tidak nyaman di lambung seperti diare.

Buah dan sayuran adalah sumber vitamin C terbaik yang bisa dikonsumsi oleh siapa saja. Sifatnya yang alami dan belum mengalami pemrosesan kimiawi membuat kandungan vitamin C tetap terjaga. Beberapa sumber vitamin C yang baik dikonsumsi adalah :
– Jambu
– Jeruk
– Brokoli
– Mangga
– Paprika
– Bayam
– Tomat

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − 1 =