Ancaman Aerosol dan Aturan Pakai Masker Saat di Gym

Di era new normal atau adaptasi kebiasaan baru, atau apapun istilahnya, ada berbagai penyesuaian untuk meminimalkan risiko penularan virus Corona COVID-19. Tidak terkecuali saat berada di gym atau pusat kebugaran.

Di Jakarta, sejumlah pusat kebugaran mulai kembali beroperasi dengan berbagai penyesuaian. Di antaranya dengan menerapkan sistem booking kelas untuk menghindari terjadinya penumpukan, serta anjuran untuk membawa perlengkapan pribadi.

Risiko Tinggi

Praktisi kesehatan olahraga dr Anita Suryani, SpKO mengatakan pusat kebugaran termasuk salah satu tempat berisiko tinggi terkait penularan virus Corona. Karenanya, olahraga di rumah tetap menjadi anjuran paling utama.

“Olahraga itu adalah AGP, Aerosol Generating Procedure. Itu adalah aktivitas-aktivitas yang dapat menimbulkan aerosol,” jelasnya dalam diskusi di channel YouTube BNPB baru-baru ini.

“Aerosol membuat droplet makin kecil jadi bisa bertahan makin lama di udara,” lanjutnya.

Bawa perlengkapan pribadi

Salah satu keuntungan berolahraga di pusat kebugaran adalah fasilitasnya yang lengkap. Tidak perlu bawa apa-apa, tinggal datang lalu olahraga.

Pada masa seperti ini, kenyamanan itu harus sedikit dikorbankan. Setidaknya, perlengkapan pribadi seperti handuk dan botol minum, diupayakan untuk bawa sendiri dan tidak saling berbagi.

Pakai masker

Terkait ancaman aerosol yang bisa menularkan virus Corona, dr Anita mengingatkan pentingnya pakai masker. Agar tetap nyaman dan aman pakai masker, maka dianjurkan berolahraga dengan intensitas ringan hingga sedang.

“Masker mengganggu metabolisme tubuh saat intensitas 80-85 persen denyut nadi maksimal. Artinya intensitas tinggi,” jelasnya.

Bagaimana caranya mengukur intensitas olahraga? Secara subjektif, intensitas olahraga bisa dikenali dengan tes bicara.

  • Intensitas rendah: masih bisa dilakukan sambil bernyanyi
  • Intensitas sedang: masih bisa dilakukan sambil bicara tapi sudah tidak bisa bernyanyi
  • Intensitas tinggi: ngos-ngosan.

Cara lain adalah dengan perhitungan denyut nadi maksimal yang pada tiap orang berbeda-beda tergantung usia. Rumus bakunya adalah 220 dikurangi umur (dalam tahun). Misal untuk orang berusia 30 tahun, maka denyut nadi maksimalnya adalah 220-30 = 190 beat per minute (bpm).

Dikatakan intensitas sedang jika denyut nadi berada pada rentang 60-80 persen denyut nadi maksimal. “Kalau di buku, exact-nya 65-75 persen (denyut nadi maksimal),” jelasnya.

Cc : https://health.detik.com/

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seven + 2 =